JAKARTA. Analis BNI Securities Agra Samudro menilai, BI rate memiliki potensi besar untuk mengalami penurunan ke level 6,5% pertengahan tahun ini. Dalam hasil risetnya yang dirilis hari ini, Arga memberikan penjelasan yang sangat rinci mengenai hal tersebut.
Dijelaskan, selama periode Maret-April, pemerintah sudah memberi garansi akan penurunan harga-harga kebutuhan pokok. Optimisme tersebut didukung oleh suplai kebutuhan pokok seperti beras, gula, daging, susu, telur yang mencukupi sehingga menstabilkan harganya di pasar. Berdasarkan data terakhir dari Bulog, persediaan beras yang mencapai 2 juta ton diperkirakan cukup untuk operasi
pasar selama enam bulan ke depan.
“Kami melihat faktor ini cukup kuat untuk menekan IHK (Indeks Harga Gabungan) di bulan April karena komponen harga yang lain juga diperkirakan tidak mengalami pergerakan yang berarti,” jelasnya.
Dari latar belakang itu, Arga mengestimasi, tingkat inflasi di bulan April akan mengalami koreksi ke level 0,08% (MoM). Sedangkan secara tahunan, BNI Securities menilai, IHK akan terus turun ke level 7,55%, yang merupakan level terendah dalam 11 bulan terakhir.
Bagaimana dengan rupiah? “Kami melihat rupiah terus menunjukkan penguatan di level Rp10.800 per US$ akibat ekspektasi keberlanjutan kepemimpinan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) di 2009-2014,” jelasnya. Selain itu, tren penurunan harga secara (YoY) mendekati level 7,5%, serta masih belum membaiknya kondisi perekonomian global merupakan faktor-faktor yang menjadi bahan pertimbangan utama bagi bank sentral untuk memangkas lagi BI rate di bulan Mei nanti. “Kami perkirakan bungaacuan hanya akan diturunkan sebesar 25 basis poin menjadi 7,25%,” imbuhnya.
Arga menjelaskan, di tengah lesunya pertumbuhan ekspor saat ini, konsumsi masyarakat dan pemerintah harus lebih diberdayakan lagi untuk memompa perekonomian. “Kami cenderung meyakini, salah satu sinyal ekonomi kita masih bisa bertumbuh adalah dari tren inflasi MoM yang stabil di kisaran 0,1%-0,5%. Karena hal tersebut menandakan aktifitas konsumsi masih berjalan untuk menopang ekonomi domestik,” urainya.
Oleh karena itu, dia meramalkan bakal adanya penurunan inflasi (YoY) yang besarannya tidak lebih dari 5% di akhir kuartal II nanti. Turunnya inflasi tersebut memungkinkan bank sentral dapat memangkas BI rate ke level 6,5% pada kuartal III 2009. “Bahkan jika pertumbuhan aktual di 1Q09 menurun tajam, boleh jadi BI akan kembali agresif menekan bunga acuan untuk antisipasi pelemahan lebih lanjut di sektor riil,” tegasnya.