INTERNASIONAL
 
Selasa, 09 Februari 2010 | 08:19
 
 
 
 

BEIJING. Pemerintah China kemungkinan membiarkan yuan menguat rata-rata 5% sepanjang tahun 2010. Tren penguatan yuan bakal dimulai sejak Juni mendatang, setelah Pemerintah Negeri Tembok Raksasa itu menaikkan bunga pinjaman untuk membatasi ekspansi kredit.

Analis senior Nomura Institute, Shiyu Kan, Senin (8/2), menilai bahwa prediksi apresiasi yuan sebesar 5% termasuk hitungan yang moderat. Sebelumnya, mata uang yuan pernah mengalami apresiasi hingga 10% per tahun.

Sebagai catatan saja, China sempat menerapkan kebijakan rezim devisa mengambang pada Juli 2005. Saat itu yuan dibiarkan menguat terhadap dollar AS, euro, yen, dan won. Alhasil, dalam waktu tiga tahun, yuan menguat hingga 21% terhadap dollar AS.
Apresiasi yuan yang terlalu tinggi memukul ekspor China. Bisa ditebak, akibat penguatan yuan, harga barang ekspor China menjadi relatif lebih mahal.

Makanya, pada Juli 2008, Pemerintah Negeri Panda kembali membatasi gerak yuan. Sejak saat itu, Bank Sentral China menjaga nilai tukar yuan tidak jauh dari kisaran 6,83 per dollar AS.

Membatasi inflasi

Masalah muncul saat China harus mengambil kebijakan mengerem laju pertumbuhannya demi mengurangi risiko gelembung ekonomi. "Pemerintah harus mengontrol inflasi," ujar Kan.

Hanya, tambahnya, pengendalian inflasi tidak dapat dilakukan hanya dengan menaikkan suku bunga perbankan. Kebijakan tersebut harus dibantu dengan pemberian ruang yang cukup bagi penguatan mata uang yuan.

Hal senada juga diungkapkan ekonom Pemerintah China, Zhang Ming. Zhang mengakui, ekspor China yang melesat pesat memunculkan sinyal ekonomi negara itu mulai memasuki zona panas. "Apresiasi yuan akan memberi efek pengetatan likuiditas seperti halnya kebijakan moneter yang lain, seperti menaikkan suku bunga," ujarnya.

Negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia itu juga mengalami masalah penyaluran kredit yang terlalu tinggi. Tak heran, pemerintah mulai melakukan langkah-langkah pembatasan likuiditas, seperti menaikkan suku bunga pinjaman, menaikkan rasio cadangan minimum untuk perbankan, sampai membatasi pertumbuhan penyaluran kredit perbankan.

Tahun ini, indeks harga konsumen diprediksi naik sekitar 4%. Sementara, bank sentral China pada Juni mendatang diperkirakan akan menaikkan suku bunga pinjaman sebesar 0,27% dari level saat ini sebesar 5,31%.



Sopia Siregar KONTAN
 
dibaca sebanyak : 224 Kali
 
Share/Bookmark
Font Size : A A A
 
Tidak terdapat komentar dalam artikel ini
 
TULIS KOMENTAR ANDA
Nama
Email
Komentar
 
 
Verifikasi gambar CAPTCHA Image
 
  
 
 
More News