-
Ratni(Senin, 15 Maret 2010 | 03:24 )hebat.... ya...
BEIJING Setelah mengumumkan kenaikan inflasi di bulan Februari, China kembali mengumumkan peningkatan penerimaan fiskal pada dua bulan pertama 2010. Perolehan fiskal China naik 32,9% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.
Total penerimaan fiskal yang diperoleh China selama Januari dan Februari mencapai CNY 1,36 triliun atau setara US$ 199,3 miliar. Namun, pertumbuhan penerimaan itu masih rendah bila dibandingkan dengan pertumbuhan bulan Desember 2009, yang mencapai 55,8%.
Dalam pernyataan di situs resmi Minggu (14/3), Kementerian Keuangan China mengatakan kenaikan penerimaan fiskal ini sebagai bagian dari perbaikan ekonomi. Selain itu, persentase yang terlihat tinggi juga disebabkan oleh dasar perbandingan yang rendah pada pencapaian fiskal pada tahun 2009 silam.
Meski begitu, Kementerian Keuangan China juga menyebutkan, dasar perbandingan yang rendah itu akan berangsur-angsur hilang pada bulan Mei. Ia memperkirakan, pertumbuhan fiskal akan lebih kuat pada semester pertama 2010, dibandingkan dengan laju fiskal yang lebih moderat di semester II nanti.
Sekadar catatan, selama tahun ini, negeri semiliaran penduduk itu memasang target pertumbuhan Produk Domestik Bruto hingga 8%.
Hanya saja, kenaikan inflasi yang cukup tinggi pada Februari lalu membayangi laju pertumbuhan ekonomi China. Pasalnya, beberapa ekonom meramal, peningkatan inflasi itu akan memicu naiknya tingkat bunga acuan.
Gubernur Bank Rakyat China Zhou Xiaochuan pun meyakinkan, meskipun inflasi China lebih tinggi dari yang diperkirakan, hal itu tidak cukup untuk mendorong perubahan strategi. "People's Bank of China tetap pada rencana awal," ujar Zhou, seperti dikutip Reuters.
Kebijakan bank sentral China menetapkan tingkat bunga acuan itu tak hanya tergantung dari tingkat inflasi. "Selain inflasi, penetapan tingkat bunga acuan juga berdasar pada kondisi ekonomi secara keseluruhan," jelas Zhou kepada wartawan di sela-sela pertemuan parlemen di Beijing, Minggu (14/3).
Zhou pun menegaskan, data ekonomi, termasuk inflasi, memang lebih tinggi dari perkiraan kami. "Namun, tidak jauh lebih tinggi, dan kami masih dapat bertindak sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan," katanya.
Harga-harga konsumen melompat hingga 2,7% pada bulan Februari. Pertumbuhan ekspor mencapai 46% dan barang hasil industri China mencapai titik tertinggi selama lima tahun. Meroketnya inflasi di bulan Februari juga sebagai akibat dari tingginya tingkat belanja konsumen menghadapi perayaan tahun baru China.
Ekonom dari Goldman Sachs Group Inc, Deutsche Bank AG, dan JP Mogan Chase & Co, mengatakan ekonomi yang memanas ini berisiko, dan bank sentral seharusnya segera mengerek tingkat suku bunga acuan pada bulan ini.
Dalam sebuah konferensi pers hari ini, Perdana Menteri Wen Jiabao mengatakan bakal menjadi sangat sulit untuk menyeimbangkan pertumbuhan serta pengelolaan inflasi. "Perlu adanya reformasi model ekonomi," ujarnya.
Selain itu, Wen menambahkan, gabungan antara inflasi, kesenjangan pendapatan, dan korupsi dapat menimbulkan keresahan sosial dan ketidakstabilan politik.