A PHP Error was encountered
Severity: Warning
Message: Invalid argument supplied for foreach()
Filename: news/komentarnya_view.php
Line Number: 3
JAKARTA. Pasar sekunder obligasi korporasi yang kurang likuid membuat harga surat utang perusahaan swasta bertahan di level premium. Hanya obligasi dengan peringkat baik saja (AA) yang ditransaksikan setiap hari. Alhasil, harga obligasi swasta di pasar sekunder bertahan di harga tinggi.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, selama Februari lalu, nilai perdagangan dan pelaporan obligasi korporasi konvensional tercatat Rp 7,47 triliun. Adapun rata-rata volume transaksi per hari sepanjang bulan lalu tersebut sebesar Rp 393,2 miliar.
Volume transaksi Februari 2010 itu naik 17,27% dibandingkan volume transaksi Januari 2010 yang Rp 6,37 triliun, dengan rata-rata volume per hari Rp 318,94 miliar.
Frekuensi perdagangan surat utang korporasi pada Februari 2010 juga menanjak 12% menjadi 1.269 kali dengan 67 kali pelaporan dibanding frekuensi bulan sebelumnya, yang sebanyak 1.133 kali dengan rata-rata 57 kali pelaporan per hari.
Sekedar perbandingan, rata-rata volume perdagangan surat utang negara (SUN) mencapai Rp 92,37 triliun dengan frekuensi 5.960 kali. Analis Obligasi Kim Eng Securities Dian Abdul Hakim menilai, transaksi pasar sekunder obligasi korporasi yang tak sebesar transaksi SUN membuat harga obligasi korporasi berada pada level premium. "Terjadi penyebaran transaksi. Setelah itu, pelaku pasar memburu instrumen lain yang bisa didapatkan dengan harga yang lebih murah," jelas Dian.
Berdasarkan data BEI, kemarin, terlihat obligasi korporasi yang paling aktif ditransaksikan adalah obligasi PT Bank Mandiri (BMRI01). Surat utang ini berpindah tangan sebanyak 129 kali dengan nilai volume Rp 532,9 miliar. Harga obligasi ini sebesar 104,8 dengan kupon 11,85%.
Di urutan kedua ada obligasi PT Indosat Tbk (ISAT07B), dengan frekuensi 109 kali dan volume sebesar Rp 1,03 triliun. Kemarin (9/3), obligasi berkode ISAT07B ini diperdagangkan pada level 105,95 dengan kupon sebesar 11,75%.
Selama Maret ini, BEI mencatat, ada obligasi korporasi senilai Rp 1,24 triliun yang bakal jatuh tempo. "Oleh sebab itu, potensi penerbitan obligasi korporasi di semester pertama akan cukup besar," jelas Handy.