INVESTASI
 
Senin, 15 Maret 2010 | 07:22
 
 
 
 

JAKARTA. Dalam tiga hari terakhir, nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) tergerus terhadap mata uang utama di dunia. Akhir pekan lalu, indeks dollar AS yang mencerminkan nilai tukar dollar AS terhadap mata uang utama dunia merosot ke posisi 79,83 dibandingkan hari sebelumnya sebesar 80,32. Ini merupakan angka terendah sejak 16 Februari 2010.

Dollar AS melemah terhadap euro dan poundsterling. Nilai tukar euro ditutup pada US$ 1,3769 atau naik 0,64% dibandingkan hari sebelumnya sebesar US$ 1,3681. Angka ini merupakan nilai tukar tertinggi yang pernah dicapai mata uang Eropa ini sejak 16 Februari lalu.Sedangkan poundsterling menguat di level US$ 1,5024. Nilai tukar negeri Ratu Elizabeth ini merupakan yang tertinggi sepanjang bulan ini.


Anjloknya nilai tukar dollar AS pada pekan lalu berpangkal di Eropa. Presiden European Central Bank Jean Claude Trichet mengatakan, rencana Yunani memangkas defisit anggaran akan memberikan citra positif di mata investor dan perusahaan pemeringkat utang. Ditambah lagi, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy kembali menegaskan pendirian Uni Eropa yang siap menyelamatkan Yunani dari belitan utang.


Situasi bisa berbalik


Pelemahan dollar AS juga berasal dari dalam negaranya. Data penjualan ritel AS pada Februari 2010 ternyata secara tak terduga naik 0,3% dibandingkan Januari 2010 menjadi US$ 355,5 miliar. Kenaikan ini menunjukkan tingkat konsumsi warga AS semakin membaik. Sehingga membuat pasar dan nilai tukar mata uang Asia juga menguat. Maklum, Amerika Serikat adalah pasar ekspor bagi perusahaan-perusahaan di Asia.


Namun, situasi bisa berbalik dalam sekejap. Analis Askap Futures Wahyu Tribowo Laksono mengatakan, pelemahan dollar AS tak akan berlangsung lama. Pasalnya, lanjut dia, data penjualan ritel AS yang membaik ini bisa memicu bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserves, segera mengatrol suku bunga yang sekarang nyaris nol.


Rencananya, The Federal Reserves akan mengadakan rapat pada Kamis (18/3) pekan ini. "Jika suku bunga naik maka dollar AS akan kembali menguat dalam jangka menengah," kata Wahyu.


Tapi, selama belum ada kejelasan, dia mengatakan mata uang berjuluk The Green Back ini bisa terus melemah terutama terhadap euro dan poundsterling. "Hingga Kamis nanti, indeks dollar bisa turun ke level 78 setelah itu targetnya masih di atas 80," ujarnya.
Dollar AS juga bakal akan melemah terhadap mata uang Asia, seperti won, dollar Singapura, baht, ringgit dan rupiah.

Wahyu beralasan, prospek pasar Asia masih menarik bagi investor. "Namun, mendekati level Rp 9.000 per dollar AS, rupiah bisa terkoreksi lagi," imbuhnya.



Wahyu Tri Rahmawati
 
dibaca sebanyak : 497 Kali
 
Share/Bookmark
Font Size : A A A
 
Tidak terdapat komentar dalam artikel ini
 
TULIS KOMENTAR ANDA
Nama
Email
Komentar
 
 
Verifikasi gambar CAPTCHA Image
 
  
 
 
More News