JAKARTA. Nasib Bank Perkreditan Rakyat (BPR) semakin terpuruk. Banyak BPR tak sanggup bersaing dengan bank umum yang gencar berekspansi ke pasar ritel. "Bank umum bisa menawarkan bunga kredit lebih rendah daripada kami," ujar Endang Setiawati, Direktur BPR Nova Trijaya, Senin (22/6).
BPR terutama terdesak oleh penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) oleh bank pelat merah. Endang bilang, untuk kredit senilai Rp 5 juta, nasabah bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) hanya kena bunga kredit kurang dari 12% per tahun. Sedangkan bunga kredit BPR yang terendah saja 16% per tahun. Lantaran bunga kredit BPR jauh lebih tinggi, tentu nasabah berpaling ke bank umum.
Tak heran penyaluran kredit BPR tersendat. Hal ini terlihat dari turunnya rasio kredit terhadap dana alias loan to deposit Ratio (LDR) BPR. Data Bank Indonesia menunjukkan, LDR BPR per April 80%, turun tipis dari LDR BPR per akhir Januari, yaitu 81%.
Para pengelola BPR mengaku tidak bisa berbuat banyak menahan ekspansi bank umum di sektor mikro. "Harusnya, bank umum hanya menyalurkan kredit dalam skema linkage," ujar Endang.
Komisaris Utama BPR Surya Yudha menambahkan, persaingan BPR dengan bank umum dalam menggarap pasar kredit ritel dan mikro juga menyebabkan biaya pendanaan alias cost of fund BPR naik. Biaya dana BPR tinggi sebab BPR mengandalkan bunga tinggi untuk menyedot dana masyarakat agar likuiditasnya tetap cair.
Cara lain yang ditempuh BPR supaya pendapatannya tetap mengalir adalah menyalurkan kredit ke sesama BPR. Ini sudah ditempuh BPR Nova Trijaya. Sampai akhir Mei lalu, BPR Nova Trijaya menyalurkan pinjaman senilai Rp 4 miliar kepada BPR lain.
Bunga masih tinggi
Penyebab lain lambatnya penyaluran kredit BPR adalah bunga kredit linkage yang masih menjulang. Meski bunga acuan sudah turun dan bank-bank mengaku sudah memangkas bunga kredit, nyatanya bunga kredit linkage masih tinggi. "Kami mendapatkan kredit dari bank BUMN dengan bunga di atas 15,5%," ujar Direktur Utama BPR Tapena Dana Sawaludin.
Bahkan, Nova Trijaya sengaja tidak menggandeng bank milik pemerintah karena bank swasta bisa menawarkan bunga kredit yang lebih rendah. "Bunga bank BUMN berkisar 16%-18% per tahun," kata Direktur Utama BPR Nova Trijaya Toto S. Biyanto.
Saat ini, Nova Trijaya mendapatkan kredit linkage dari sejumlah bank swasta nasional dan bank pemerintah daerah, yang bunganya berkisar 13,5%-15% per tahun.
Bunga kredit linkage yang masih tinggi mendorong pengelola BPR memasang bunga kredit yang tinggi ke nasabah. Makanya, kebanyakan BPR memilih tidak ekspansif menyalurkan kredit di tahun ini. Ambil contoh, Nova Trijaya hanya memasang target kredit sebesar Rp 27 miliar.
Ruisa Khoiriyah
dibaca sebanyak : 1404 Kali