KEUANGAN
 
Rabu, 10 Maret 2010 | 10:27
 
 
 
 

JAKARTA. Pertumbuhan kredit perbankan masih belum menunjukkan tanda-tanda akan membaik. Alih-alih mencetak kenaikan, nilai kredit perbankan justru menyusut.

Mengutip data Bank Indonesia (BI) yang diperoleh KONTAN, sampai akhir Januari 2010, total nilai kredit perbankan (outstanding) tercatat Rp 1.405,5 triliun. Angka ini turun Rp 32,4 triliun atau 2,25% dari posisi bulan Desember 2009 yang sebesar Rp 1.437,9 triliun.

"Pertumbuhan kredit memang masih mengalami penurunan bila dibandingkan dengan akhir tahun lalu. Banyak yang bilang ini sebagai January effect," kata Deputi Gubernur BI Muliaman D. Hadad kepada KONTAN, Senin lalu (8/3).

January effect ini merujuk pada situasi di awal tahun, ketika kegiatan usaha, umumnya, belum berjalan normal. Awal 2009 silam, kondisi ini juga terjadi. Waktu itu nilai kredit menyusut 2,09%% atau sekitar Rp 28,3 triliun.

Selain dunia usaha belum banyak bergerak, bank juga lebih fokus menangani konsolidasi internal. Maka itu, bank sentral mengaku tak pusing dengan catatan buruk kredit perbankan di awal 2010 ini. Pasalnya, "Sampai hari ini, kredit masih terus bergerak naik rata-rata sebesar Rp 4 triliun hingga Rp 5 triliun per minggu," jelas Muliaman.

Melihat pergerakan kredit per pekan itu, BI yakin, kredit akan menggeliat di bulan-bulan mendatang dan terus mengucur sesuai target. "Melihat prospek ekonomi nasional, kami malah optimistis, ekspansi kredit bank tahun ini bisa di atas target semula," jelas Kepala Biro Humas BI Difi A. Johansyah. BI telah mematok target pertumbuhan kredit tahun ini sekitar 17%-20%.

Sejatinya, untuk mencapai pertumbuhan hingga 20%, setiap bulan, kredit minimal harus bertumbuh 1,67%. Nah, jika di awal tahun sudah melempem, apa mungkin target tersebut tercapai bahkan terlampaui? "Januari hanya satu bulan, tidak bisa dijadikan ukuran," tangkis Difi.

Lesunya kredit di awal tahun, di mata bankir juga bukan hal baru. "Biasanya memang masih lesu, meski tidak sampai negatif seperti sekarang," ujar Direktur Bank Jasa Jakarta Lisawati.

Dalam perkiraan Lisa, kredit yang masih lesu kebanyakan kredit di sektor korporasi. "Pelaku sektor riil masih wait and see terkait situasi politik nasional. Tapi, untuk kredit di sektor ritel tidak banyak terpengaruh," ujarnya.

Direktur Kredit Bank Mega Daniel Budirahaju memiliki pendapat senada. Di kuartal satu, umumnya, keran kredit bank belum gencar. "Permintaan sudah mulai banyak yang masuk, kemungkinan baru mulai terealisasi di April dan Mei nanti," jelasnya.

BI sendiri sudah menyiapkan cara untuk menggiring bank agar giat menyalurkan kredit. Terakhir, bank sentral memperpanjang profil jatuh tempo instrumen Sertifikat BI (SBI) menjadi satu bulan dan mengurangi instrumen SBI bertenor pendek.

Kebijakan anyar itu memaksa bank menyalurkan likuiditasnya menjadi kredit agar tetap meraup laba. "Kami akan gencarkan ke kredit," kata Direktur Utama BNI Gatot M. Suwondo.



Ruisa Khoiriyah
 
dibaca sebanyak : 152 Kali
 
Share/Bookmark
Font Size : A A A
 
Tidak terdapat komentar dalam artikel ini
 
TULIS KOMENTAR ANDA
Nama
Email
Komentar
 
 
Verifikasi gambar CAPTCHA Image
 
  
 
 
More News