KEUANGAN
 
Kamis, 18 Maret 2010 | 16:01
 
 
 
 

JAKARTA Masa transisi pengubahan kebijakan lelang instrumen Sertifikat Bank Indonesia (SBI) sudah dimulai sejak pekan lalu. Dalam lelang pekan ini yang berlangsung Rabu (17/3) kemarin, BI menawarkan lelang SBI dengan tenor yang di luar kebiasaan. Pada lelang-lelang sebelumnya, BI menawarkan SBI dalam tiga jenis tenor yakni 28 hari (1 bulan), 91 hari (3 bulan), dan 181 hari (6 bulan).

Nah, di lelang pekan ini, BI menawarkan tiga jenis tenor yakni 57 hari, 84 hari, dan 174 hari serta SBI Syariah dengan tenor 56 hari. Adapun jumlah penawaran yang diserap adalah sebesar Rp 46,99 triliun. Lebih kecil dari penawaran yang masuk yang mencapai Rp 62,71 triliun.

BI mengutamakan penyerapan untuk tenor 84 hari yakni sebesar Rp 33,92 triliun dari penawaran masuk sebanyak Rp 33,92 triliun. Sedangkan untuk penyerapan SBI bertenor 57 hari, BI hanya mengambil sebesar Rp 13,5 triliun dari penawaran masuk sebanyak Rp 27,29 triliun. Sedangkan untuk SBI bertenor 174 hari, BI menyerap semua penawaran masuk senilai Rp 1,50 triliun.

Penawaran dengan tenor yang di luar kebiasaan ini dilakukan untuk menggiring secara perlahan jatuh tempo SBI bank sehingga jatuh waktunya dapat disesuaikan pada minggu kedua setiap bulannya. "Maka itu tenor yang ditawarkan dan target indikatif dalam masa transisi ini bisa lebih besar dari biasanya," kata Kepala Biro Humas BI Difi A. Johansyah.

Selanjutnya, lelang SBI akan diarahkan menjadi lelang dua-mingguan, dan seterusnya menjadi bulanan per Juni 2010 nanti. Seperti diketahui, BI mengubah kebijakan lelang SBI dengan memperpanjang profil jatuh tempo lelang dari semula seminggu sekali menjadi sebulan sekali. Selain itu, BI juga akan lebih mengutamakan penyerapan SBI untuk tenor menengah yakni tiga dan enam bulan.

Kebijakan ini diterapkan karena bank sentral ingin perbankan mulai serius mengelola likuiditasnya dalam rentang waktu lebih panjang. BI juga berkepentingan agar pasar uang bergairah kembali dan efektif mendukung operasi moneter. Ujung-ujungnya, diharapkan transmisi kebijakan moneter juga diharapkan bisa lebih efektif.



Ruisa Khoiriyah
 
dibaca sebanyak : 270 Kali
 
Share/Bookmark
Font Size : A A A
 
Tidak terdapat komentar dalam artikel ini
 
TULIS KOMENTAR ANDA
Nama
Email
Komentar
 
 
Verifikasi gambar CAPTCHA Image
 
  
 
 
More News