JAKARTA. Rapor ekspor negara kita kembali jeblok. Setelah sempat merangkak naik selama empat bulan berturut-turut, angka perdagangan ke luar negeri kembali merosot. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan, ekspor Indonesia selama September 2009 lalu cuma sebesar US$ 9,83 miliar.
Jumlah tersebut turun sebesar 6,75% ketimbang angka ekspor Agustus lalu yang menembus US$ 10 miliar, persisnya US$ 10,55 miliar, atau tertinggi sejak November 2008 lalu. Bahkan, kalau dibandingkan September 2009 lalu, angka ini anjlok sebesar 19,92%.
Kepala BPS Rusman Heriawan bilang, penurunan kinerja ekspor pada September lalu tak lepas dari nilai ekspor non-minyak dan gas (migas) yang merosot hingga 8,58% dibanding bulan sebelumnya. "Penurunan terbesar terjadi pada golongan barang lemak, minyak hewan, dan nabati sebesar US$ 417,7 juta," katanya, Senin (2/11).
Untungnya, kinerja ekspor dua bulan lalu tertolong nilai ekspor migas yang naik, meski cuma 3,07% menjadi US$ 1,7 miliar dari tadinya cuma US$ 1,65 miliar. Peningkatan ini terutama berasal dari ekspor hasil minyak yang melesat sebesar 48,33%.
Walau ekspor pada September lalu turun, Rusman mengatakan, neraca perdagangan Indonesia masih mencetak surplus. Soalnya, nilai impor juga ikut-ikutan merosot sebesar 11,79% menjadi US$ 8,56 miliar dari sebelumnya US$ 9,71 miliar. Sehingga, neraca perdagangan masih surplus US$ 1,27 miliar.
Kepala Ekonom BNI Tony Prasetyantono memperkirakan, surplus perdagangan hingga akhir tahun ini bakal mencapai US$ 15 miliar hingga US$ 16 miliar. "Ekspor dua bulan lalu melemah bisa jadi karena kurs rupiah terlalu menguat. Bank Indonesia perlu menjaga agar penguatan tidak sampai menimbulkan overvalued," ujar dia.