A PHP Error was encountered
Severity: Warning
Message: Invalid argument supplied for foreach()
Filename: news/komentarnya_view.php
Line Number: 3
JAKARTA. Kondisi ketahanan pangan nasional masih sangat rentan. Soalnya, untuk mencukupi kebutuhan pangan dalam negeri, Indonesia masih harus mengimpor. Setiap tahun, duit sebesar Rp 50 triliun ludes untuk mengimpor berbagai produk hasil pertanian, seperti gula, kedelai, gandum, dan susu.
Berdasarkan data yang dilansir Soegeng Sarjadi Syndicate, impor pangan nasional terus mengalami peningkatan tiap tahun. “Ironisnya, untuk produk laut, seperti ikan, pemerintah juga harus melakukan impor dari Pakistan. Padahal luas laut Pakistan tidak ada apa-apanya dibanding dengan Indonesia,” kata Soegeng Sarjadi dalam acara peluncuran buku "Membangun Daerah, Membangun Republik", Selasa (9/3). Tidak hanya itu, Indonesia pun masih mengimpor garam. Nilainya mencapai Rp 900 miliar per tahun.
Sekretaris Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Perdagangan Gunaryo membenarkan, nilai impor pangan dari tahun ke tahun terus adalah naik. Kontribusi terbesar adalah dari impor gula. Tahun ini saja, Indonesia mengimpor 500.000 ton gula. Kebutuhan gula dalam negeri mencapai 2,4 juta hingga 3 juta ton. Adapun produksinya hanya sebesar 2,7 juta ton.
Ketergantungan pada impor juga terjadi pada gandum. Sebanyak 100% bahan baku tepung terigu itu diimpor dari sejumlah negara. Kebutuhan gandum dalam negeri mencapai 350.000 ton per bulan. Cuma untuk garam, Gunaryo menyatakan, yang diimpor merupakan garam industri, bukan garam konsumsi. "Impor garam itu adalah garam untuk industri pengeboran, pertambangan. Kalau garam konsumsi kita tidak melakukan impor," katanya.