kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS918.000 -1,50%
  • RD.SAHAM -0.15%
  • RD.CAMPURAN 0.00%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Tag

hand sanitizer

hand sanitizer
Pengunjung memakai hand sanitizer. Tribunnews/Irwan Rismawan

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Cuci tangan menjadi kegiatan penting selama masa pandemi ini agar terhindar dari infeksi Covid-19. Hanya saja, terlalu sering cuci tangan tentu akan membuat tidak nyaman kulit tangan, terlebih saat Anda mencuci tangan menggunakan hand sanitizer.

Pasalnya, kandungan alkohol yang tinggi pada hand sanitizer ini dapat merusak lapisan lemak pada kulit, lalu merusak ikatan antara sel kulit, dan menurunkan kemampuan kulit dalam mengingat air, sehingga bisa menyebabkan kulit kering.

Dokter Silvestri dari anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mengatakan, jika hal tersebut dibiarkan dapat membuat iritasi pada kulit. Nah, di masa pandemi ini cukup banyak kasus dermatitis kontak iritan (DKI) atau bisa disebut reaksi iritasi kulit. “Hal ini terjadi akibat penggunaan hand sanitizer yang berlebihan dapat membuat kulit menjadi perih hingga iritasi,” kata dokter Silvestir.

Lalu, Apa itu dermatitis kontak? Dermatitis kontak adalah peradangan pada kulit baik itu reaksi akut ataupun kronik yang disebabkan oleh bahan atau substansi yang menempel pada kulit. Perlu Anda ketahui, ada dua macam dermatitis kontak yaitu Dermatitis Kontak Iritan (DKI) dan Dermatitis Kontak Alergi (DKA).

Baca Juga: Cara terbaik mencegah virus corona yang perlu Anda coba

Pertama, dokter Silvestri menjelaskan, dermatitis kontak iritan merupakan reaksi peradangan kulit non-imunologik, jadi kerusakan kulit terjadi langsung tanpa didahului proses sensitisasi. Dan kedua, dermatitis kontak alergi terjadi pada seseorang yang telah mengalami sensitisasi atau orang dengan riwayat alergi.

Dermatitis kontak iritan ini dapat diderita oleh semua orang. “Dermatitis kontak iritan adalah peradangan pada kulit yang terjadi karena berkontak dengan bahan iritan dalam waktu dan konsentrasi yang cukup lama,” tambahnya.

Nah, kelainan kulit yang terjadi ditentukan oleh lama kontak atau secara terus-menerus, konsentrasi pada bahan tersebut, gesekan, trauma fisik, suhu, dan kelembaban. Ujungnya, bahan iritan tersebut dapat merusak lapisan lemak pada kulit dan menurunkan kemampuan kulit dalam mengikat air, sehingga bisa menyebabkan kulit tangan kering,

Yang perlu Anda ketahui, bahan iritan penyebab dermatitis kontak iritan diantaranya seperti sabun dan deterjen, bahan pemutih, disinfektan, bubuk seperti merica, debu, larutan asam, alkali atau klorin.



Dokter Silvestri menjelaskan, gejala yang paling sering dikeluhkan adalah kulit tangan terasa kering, diikuti dengan gatal, terasa perih dan panas, kulit tampak kemerahan, vesikel (gelembung berisi cairan) atau lesi melepuh, fisura, serta perdarahan. Sedangkan, area yang paling banyak ditemukan kelainan adalah punggung tangan sebanyak 77%, dan area sela jari 75%.

Berikut ini adalah cara mengatasi kulit kering akibat keseringan cuci tangan menggunakan hand sanitizer menurut American Academy of Dermatology Association :

1. Cuci tangan dengan air dan sabun.

Mencuci tangan dengan air yang mengalir atau air hangat atau suam suam kuku dan sabun selama 20 detik itu jauh lebih baik daripada menggunakan hand sanitizer.

2. Gunakan pelembab.

Gunakan pelembab tangan di saat kondisi kulit masih lembab atau setengah kering pada permukaan tangan yang sudah di cuci. Dengan begitu Anda akan mengunci air dan kelembaban kembali ke dalam kulit.

Gunakan pelembab tangan yang memiliki kandungan minyak mineral atau petrolatum sangat disarankan agar kulit tak cepat kering. Sebab, kandungan-kandungan tersebut memiliki sifat oklusif, artinya dapat mengunci kelembaban dengan lebih baik, juga dapat membantu barrier atau lapisan kulit untuk menyimpan air dan mengurangi iritasi.

Sebaiknya, Anda hindari pelembab yang mengandung pewarna dan pewangi buatan.

Dokter Silvestri menambahkan, segera konsultasikan keluhan kulit ke dokter spesialis kulit dan kelamin terdekat bila terjadi hal seperti ini. Pertama, bila dengan langkah pencegahan yang dilakukan tidak memberi perbaikan, atau bahkan mengalami perburukan,

Kedua, bila terjadi infeksi sekunder, yang pada umumnya ditandai dengan bengkak, berair, bernanah, hingga demam. Nanti dokter yang akan memeriksa keluhan kulit tersebut dan memberikan obat-obatan sesuai kelainan kulit yang ada. “Jangan sembarang menggunakan obat karena bisa membuat kerusakan kulit semakin parah. Penanganan yang cepat dan tepat dapat mencegah kerusakan kulit lebih lanjut,” jelasnya.

Mari kita bersama-sama menerapkan 6M untuk pencegahan penularan Covid-19 seperti memakai masker yang benar, mencuci tangan, menjaga jarak, membatasi mobilitas, menjauhi kerumunan, mendapatkan vaksinasi.

Lakukanlah tindakan proteksi diri semaksimal mungkin, mengingat virus Corona adalah virus yang masih baru dengan berbagai macam mutasi virus dan gejalanya yang masih terus berkembang sampai saat ini.

BERITA TERKAIT
Berita Lainnya

[X]